Khamis, 22 Januari 2009

Jangan Pilih Caleg Yang Tak Perduli TKI

Kuala Lumpur - Malaysia menjadi salah satu pangsa pasar suara signifikan untuk daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta II karena jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang mencapai 2 juta orang. Sebagian besarnya adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Namun sayangnya, suara TKI di Malaysia seringkali hanya dijadikan sapi perah oleh caleg di saat pemilu. Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Malaysia mengajak agar jangan memilih caleg yang tidak berpihak kepada TKI."Perhatian anggota DPR sekarang kepada TKI di Malaysia sangat kurang. Padahal waktu pemilu 2004, mereka banyak memberikan janji, tapi mana perhatian mereka terhadap persoalan-persoalan TKI kita selama ini. Karena itu TKI harus berhati-hati memilih. Jangan memilih mereka yang tidak peduli pada nasib TKI," ujar Ketua Umum PPI Malaysia Irfan Syauqi Beik dalam rilisnya, Kamis (22/1/2009).Irfan pun menyesalkan jumlah kunjungan kerja anggota DPR ke Malaysia di masa reses sangat jarang. Menurutnya, seharusnya kunjungan tersebut untuk menyerap aspirasi WNI di Malaysia, bukan sekedar melancong. Karena itu PPI Malaysia akan melakukan kontrak politik dengan sejumlah caleg yang bertarung melalui dapil DKI Jakarta II. Kontrak politik itu akan dilakukan bersamaan dengan Dialog dan Sosialisasi Caleg Dapil DKI II pada Selasa 27 Januari 2009 yang diadakan PPI Malaysia di Kuala Lumpur.Sejumlah politisi populer bakal bertarung di Dapil DKI II dalam pemilu mendatang. Mereka antara lain Sekjen PKNU Alwi Shihab, Ketua DPP PKS Shohibul Iman, politisi PAN Ade Daud Nasution, putera SBY Eddy Baskoro, politisi Hanura Samuel Koto, Ketua PKB Malaysia Machrodji Maghfur, putera politisi Golkar Theo L Sambuaga, Jerry Sambuaga, dan Ketua PD Malaysia Wawan Syakir Darmawan. Di Malaysia telah berdiri 8 perwakilan partai, yaitu PKB, PKS, Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Hanura, PAN, PDIP, dan PKNU. Kedelapan partai tersebut akan memperebutkan lebih kurang 800 ribu suara WNI di Malaysia.

Sumber detik.com

Khamis, 15 Januari 2009

PERLINDUNGAN DAN PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI AKAN DI TATA ULANG

Untuk menata ulang sistem perlindungan dan penempatan Tenaga Kerja di luar negeri, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi akan mengadakan Rapat Koordinasi Teknis tingkat Nasional Salah satu tujuannya meningkatkan aspek perlindungan bagi TKI serta mencegah aksi penyiksaan yang kerap menimpa TKI di negara penempatan.

" Semua stake holder yang terlibat dalam penanganan TKI di luar negeri akan hadir, termasuk lembaga formal maupun LSM. Nanti kita akan bersama-sama mencari format untuk mendata dan menata ulang sistem perlindungan dan penempatan TKI."

Demikian dikatakan Menakertrans Erman Suparno saat menyerahkan santunan kepada Keni (28) TKI asal Arab Saudi dan Sunemi (34) TKI asal yang mengalami penyiksaan oleh majikannya di RS Polri Kramat Jati, Rabu(14/1).

SUMBER : http://www.depnakertrans.go.id/news.html,181,naker



Selasa, 13 Januari 2009

PEMERINTAH AKAN TUNTUT PENYIKSA TKW DI SAUDI

Indonesia akan tuntut warga Saudi penyiksa TKI

KBRI Arab Saudi 10 Januari 2009
JAKARTA - Menakertrans Erman Suparno menyatakan pemerintah akan menuntut majikan Keni (28 tahun), TKI asal Brebes yang disiksa di Arab Saudi dan akan bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi di Indonesia untuk membahas masalah itu. "Saya sangat menyesalkan kejadian ini. Penyiksaan ini melebihi batas-batas kemanusian. Saya akan berkoodinasi dengan Departemen Luar Negeri RI dan KBRI untuk mengambil langkah tegas berupa penuntutan hukum terhadap majikannya," tandas Erman dalam siaran pers Depnakertrans di Jakarta. Keni adalah warga Desa Losari Lor, Kecamatan Losari, Brebes, Jawa Tengah. Dia disiksa oleh majikan perempuannya di Madinah, Arab Saudi, selama tiga bulan, dan kini sudah berada di Indonesia Saat dijenguk Erman di RS Polri Kramat Jati, Keni sudah membaik di mana luka-lukanya mulai mengering dan tampak keloid dibekas lukanya. Kedua kuping Keni hampir putus dan lidahnya telah diiris pisau sehingga kondisinya sangat memilukan. Erman berjanji segera bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia guna membahas berbagai masalah, tidak haya Peni, namun juga keselamatan dan perlindungan TKI yang bekerja di Arab Saudi. "Kita harus mencari solusi terbaik agar penyiksaan yang kerap dialami TKI di luar negeri dihentikan secepatnya," kata Erman. Menteri juga akan meminta perusahaan jasa TKI yang menempatkan Keni segera mengurus asuransinya, meskipun biaya perawatan Keni sudah ditanggung pemerintah. Untuk meringkankan beban Keni, Menakertrans menyarankan Keni tak perlu lagi bekerja di luar negeri sebagai TKI dan menjanjikan pemerintah akan memberi bantuan wirausaha untuknya di tanah air. Menakertrans juga akan berkoordinasi dengan Departemen Sosial dan Departemen Luar Negeri agar Peni bisa menjalani operasi plastik. Keni, ibu satu anak, meminta Erman menuntut majikannya. "Tolong saya Pak Menteri, tuntut majikan saya agar tidak ada lagi TKI yang bernasib seperti saya," katanya memohon. TKI lain bernama Sunaeni, asal Indramayu, dikabarkan juga telah disiksa majikannya. Keduanya mengalami nasib sial pada keempat kalinya bekerja di luar negeri.

TKI TANGGUNG JAWAB SIAPA

Pemda Tanggung Jawab atas TKI

Pos Kota 13 Januari 2009
JAKARTA (Pos Kota) - Perusahaan jasa TKI (PJTKI), akan menata sistem pengelolaan yang diperlukan untuk mengantisipasi masalah yang ditimbulkan akibat perubahan aturan penempatan TKI ke luar negeri. Salah satunya, kata Ketua Umum Himsataki Yunus M. Yamani, penyiapan armada pemulangan TKI dan kerjasama dengan perusahaan penukaran uang (money changer) dan bank-bank pemerintah yang telah ada di Terminal 4 atau Terminal Pemulangan TKI. Kepada BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI) yang wewenangnya telah dicabut melalui Permennaker No.22/2008, diingatkan agar tidak melakukan inspeksi mendadak (Sidak) pada PJTKI. Wakil Ketum Apjati, Rusdi Basalamah, mengatakan kalangan PJTKI mengharapkan Permenakertrans itu bisa meminimalkan pungutan-pungutan yang masih terjadi sejak perekrutan hingga pemulangan TKI ke tempat asalnya. AWAL KEKELIRUAN Menyinggung tentang tarik menarik wewenang yang terjadi antara Depnakertrans dan BNP2TKI, Rusdi menyatakan, "Jika mau jujur, awal kekeliruan pada Menakertrans yang memberikan wewenang terlalu besar kepada BNP2TKI melalui Permenakertrans No.18/2007." Fakta yang terjadi dalam dua tahun terakhir (2007-2009) tugas dan wewenang BNP2TKI terlalu berat dan tidak proporsional sehingga banyak yang keluar dari peraturan perundangan yang ada dan berbenturan dengan instansi lain. Selama ini yang menempatkan TKI ke mancanegara dan mendatangkan devisa miliaran dolar adalah PJTKI, bukan Depnakertrans dan BNP2TKI. “Karana itu prioritas utama pemerintah adalah menciptakan suasana kondusif pada program penempatan dan perlindungan TKI, bukan sebaliknya," kata Rusdi.

RUMITNYA ASURANSI TENAGA KERJA

Jumhur: Semua Asuransi TKI Berengsek

Antara News 13 Januari 2009
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Badan Nasional Penempatan dan Pelindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Jumhur Hidayat, menyatakan bahwa semua asuransi TKI berengsek karena tidak memenuhi syaratdan tidak melindungi TKI. Jumhur di Jakarta, Rabu, menegaskan bahwa lima konsorsium asuransi TKI tidak memenuhi syarat dan tidak melindungi TKI. "Semua konsorsium asuransi TKI tidak memiliki perwakilan di luar negeri, tidak membuka 'shelter'(penampungan sementara) di negara tujuan penempatan TKI," kata Jumhur. Tidak hanya itu, Jumhur juga mengemukakan memiliki data bahwa banyak TKI yang tidak dibayar klaim (santunan). "Sebagian TKI enggan mengajukan klaim karena prosesnya rumit, ada juga yang enggan karena sudah terlanjur pulang kampung," kata Jumhur. Oleh karena itu, dia meminta Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) meninjau kembali kinerja konsorsium asuransi TKI yang ada. Ketika ditanya pers mengapa BNP2TKI tidak menganjurkan, agar TKI tidak ikut asuransi, Jumhur mengatakan bahwa keikutsertaan dalam program asuransi adalah amanat Undang-Undang (UU) Penempatan dan Perlindungan TKI. "Nanti, TKI tidak boleh berangkat karena tidak diasuransikan," katanya. Solusinya, kata Jumhur, pembenahan program pelindungan TKI melalui asuransi. Lima jasa asuransi TKI yang ada di Indonesia adalah PT Asuransi Jasindo dan konsorsium Asuransi Bangun Askrida, konsorsium asuransi Ramayana, konsorsium asuransi Proteksi, dan konsorsium asuransi AdiraDinamika. (*)

SATU LAGI BURUH MIGRANT JADI KORBAN PENYIKSAAN

TKW Disiksa Majikan
Radar Madura 3 Januari 2009
Kabur, 4 Tahun Kerja Bawa 2.800 Ringgit BANGKALAN-Malang nian nasib Subaidah, 30, warga Dusun Tor Srajah, Desa Kampak, Kecamatan Geger, ini. Maksud hati ingin mengubah nasib keluarga, justru mendapatkan siksaan dari majikannya di Malaysia. Tak tahan karena terus disiksa, tenaga kerja wanita (TKW) itu nekat kabur dari rumah majikannya. Jumat (26/12) lalu dia sampai di rumahnya kembali dengan membawa bekas siksaan itu di tubuhnya. Saat ditemui di rumahnya kemarin, di tubuh perempuan berjilbab ini ditemukan beberapa luka lebam, bekas tusukan, bekas disetrika hingga bekas luka akibat disiram air panas oleh majikannya. TKI dengan nomor paspor AL. 136045 ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) pada sebuah keluarga. Pasangan yang mempekerjakannya adalah Asroni Abu Bakar dan Fauziyah Zainal di Trengganu Darul Iman, Malaysia. Keduanya telah menahan Subaidah selama tiga tahun delapan bulan di rumahnya. Tak hanya "disekap", Subaidah sering disiksa. Dia pun tetap dipaksa bekerja tanpa mendapatkan haknya. Karena tak tahan dengan derita yang dialaminya, putri ketiga dari empat bersaudara ini kabur dari rumah majikannya. Berhasil kabur, dia lalu melapor ke polisi Malaysia. "Yang paling sering menyiksa saya itu istrinya (Fauziyah Zainal, Red). Kalau suaminya lebih banyak diam dan hanya melihat perlakuan istrinya kepada saya," cerita Subaidah sambil menitikkan air mata. Siksaan pertama yang diterima Subaidah dari majikan perempuan itu awalnya berupa cubitan. Itu terjadi selama seminggu setelah dia bekerja di Malaysia pada 2004. "Pokoknya, selama seminggu saya masuk sudah dicubit-cubit terus kalau dia marah," ungkapnya. Melihat reaksi Subaidah yang mulai merasa tidak betah dan menyampaikan keinginannya untuk pulang, majikan perempuannya justru semakin gelap mata. Subaidah mengaku disiksa lebih kejam dari sekadar cubitan. "Sejak saya mengatakan ingin pulang, dia menyiksa saya semakin keras. Kepala saya dihentak-hentakkan ke dinding sampai gigi saya patah," ujarnya dengan logat Malaysia. Gigi depan Subaidah memang tak lengkap lagi akibat beberapa kali dibenturkan ke dinding dan dilempari sesuatu oleh majikannya. Kondisi Subaidah diperparah dengan jari-jari tangannya yang sudah tak normal lagi. Setelah menyiksa Subaidah, majikannya mengancam akan menjual perempuan desa tersebut. Apa latar belakang penyiksaannya? Subaidah awalnya berpikir bahwa majikan perempuannya itu cemburu kepadanya. Sebab, majikan laki-lakinya tak pernah berlaku buruk padanya. Tapi perkiraannya keliru. Perempuan yang menyiksanya tidak sedikit pun menaruh rasa cemburu. "Dia menyiksa saya karena tahu saya ini orang miskin, bodoh, dan dari desa. Sejak awal saya memang cerita padanya supaya dia bisa memaklumi keadaan saya," tuturnya. Bukannya mau mengerti, malah majikannya semakin bebas menyiksanya tanpa takut Subaidah melaporkan ke pihak berwajib. Sebab, si majikan tahu bahwa Subaidah adalah lulusan pesantren yang sangat menghormati sebuah sumpah. "Saya disumpah supaya tidak cerita pada siapa pun tentang kondisi saya di sana," tandasnya. Sadar dirinya akan terus menderita, Subaidah akhirnya melanggar sumpahnya kepada si majikan. Pada suatu malam, dia berhasil kabur dari rumah majikannya. Sebelum melapor ke kepolisian Malaysia, dia memberanikan diri datang kepada kakaknya yang juga berada di negeri jiran itu. Dia bersama kakaknya kemudian melaporkan majikannya ke polisi. Laporan itu ditindaklanjuti kepolisian Malaysia dengan mengembalikan Subaidah ke majikan yang sudah menyiksanya selama bertahun-tahun itu. "Sama pak polisi itu majikan saya disuruh mengirim saya pulang ke Indonesia. Padahal, saya berharap mereka memberi sanksi pada orang jahat itu," katanya. Subaidah akhirnya bisa kembali ke tanah air dan dijemput keluarga di Bandara Juanda Surabaya seminggu lalu, Jumat (26/12). Dia hanya membawa hasil kerjanya selama di Malaysia sebesar 2.800 ringgit. "Itu pun saya disuruh bilang 4 ribu ringgit. Ditambah tak boleh cerita pada siapa pun sesampai saya di Indonesia," ungkapnya. Keluarga Subaidah jelas merasa sakit hati. Sambil menangis, Armani, ibu Subaidah, mengatakan bahwa dirinya sangat kecewa kepada majikan anaknya. Dia berharap orang yang telah menyiksa anaknya itu dihukum setimpal. Juga memberikan hak Subaidah yang selama ini tidak diberikan. "Anak saya itu katanya mau digaji 400 ringgit setiap bulan. Ini sudah berapa bulan? Bukan diberi gaji, malah disiksa," tandasnya. (nra/mat)

Isnin, 12 Januari 2009

FROM JEMBER GO INTERNATIONAL

Dr Achmad Subagio MAgr, Penemu Modifikasi Tepung Gaplek

Kembalikan Kejayaan Singkong Di tangan Achmad Subagio, tepung gaplek (tepung dari ubi kayu) yang minim manfaat, berhasil dimodifikasi menjadi kaya manfaat. Doktor ahli kimia pangan itu pun telah mempresentasikan temuannya tersebut di dunia internasional dan telah diakui.-------------Jika menghubungi nomor telepon rumahnya di Jl Tawang Mangu, Jember, akan terdengar mesin penjawab berbahasa Jepang. Subagio memang lulusan Jepang. Dia menyelesaikan S-2 dan S-3-nya di Osaka Perfecture University di Negeri Sakura tersebut.
Mengapa tertarik meneliti tepung gaplek? Menurut dosen di Fakultas Teknologi Hasil Pertanian di Universitas Jember itu, tepung gaplek atau tepung singkong selama ini dikesankan inferior. "Kesannya selama ini, kalau orang sampai makan gaplek itu kok miskin banget," kata pria 39 tahun itu. Padahal, lanjut Subagio, singkong adalah tanaman yang sangat banyak di Indonesia. "Bahkan, menurut data FAO (lembaga PBB yang membidangi masalah pangan) 2004, Indonesia merupakan produsen ubi kayu terbesar di dunia setelah lima negara lain," katanya. Karena itu, singkong sebenarnya bisa menjadi alternatif bahan pangan ketika terjadi krisis pangan. "Tapi, orang telanjur lekat dengan kesan bahwa kalau makan tepung gaplek itu ndeso banget," tandasnya. Dari sinilah lantas muncul tekad Subagio untuk mengembalikan kejayaan singkong sebagai bahan makanan asli Indonesia.
Sejak itulah Subagio mulai meneliti tepung gaplek pada 2004. "Saya mulai meneliti ketika berada di Belanda, mengikuti training tentang food safety tiga bulan," ceritanya. Dari Belanda, Subagio melanjutkan training ke Inggris, tepatnya di sebuah kota dekat Liverpool. "Di Inggris, saya mempelajari bagaimana mengemas sebuah produk baru yang selanjutnya saya terapkan untuk produk baru modifikasi dari tepung gaplek," katanya. Setelah setahun meneliti, akhirnya Subagio berhasil memodifikasi tepung gaplek menjadi bahan yang kaya manfaat. Temuannya diberi nama Modified Cassava Flour (Mocal), yakni tepung ubi kayu termodifikasi. Apa bedanya dengan tepung gaplek? Subagio menerangkan, tepung gaplek, pembuatannya lebih sederhana. Yakni, ubi kayu dikeringkan, lalu digiling menjadi tepung. "Kalau Mocal, melalui beberapa proses kimia," katanya. Di antaranya, ubi kayu difermentasikan dulu. "Difermentasikan di sini bukan berarti dibuat tape lho," katanya. Setelah itu, dikeringkan. Mengeringkannya, 3/4 menggunakan matahari. "Kita juga menggunakan alat pengering hibrida agar terjamin hieginitasnya," katanya. Setelah dikeringkan, ubi ketela itu akan berbentuk chips (seperti keripik). Selanjutnya, baru digiling, diayak (disaring), dikemas menjadi produk tepung serbaguna. "Bedanya dengan tepung gaplek, kalau tepung gaplek bau ketelanya masih dominan sehingga kadang baunya apek," katanya. "Tapi, tepung Mocal kami cita rasa ketelanya hampir nggak ada. Sekitar 70 persen rasa singkongnya hilang," jelas pria yang juga berhasil meneliti koro sebagai pengganti kedelai dan telah diterapkan di Afrika Selatan itu.
Berkat proses kimia yang diterapkan pada Mocal, Subagio berhasil menjadikan tepung gaplek memiliki tingkat viskositas (kekentalan) dan tingkat elastisitas adonan yang tinggi. "Kalau tepung gaplek itu tidak bisa dijadikan bahan pembuatan kue, tepung Mocal buatan kami bisa," kata bapak satu anak itu. Kini Subagio mengaku mulai kewalahan menerima pesanan dari sejumlah industri pembuat kue. "Menggunakan tepung Mocal memang lebih rendah biayanya ketimbang tepung terigu," katanya. Sebagai perbandingan, harga tepung terigu sekitar Rp 4.600 per kilogram. Tepung Mocal sekitar Rp 3.200 per kilogram. "Kandungan karbohidrat tepung Mocal juga lebih tinggi dari tepung terigu," lanjutnya.
SUMBER : www.jawapos.co.id (wisnu priyono/jpnn/kum)