Kuala Lumpur - Malaysia menjadi salah satu pangsa pasar suara signifikan untuk daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta II karena jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang mencapai 2 juta orang. Sebagian besarnya adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Namun sayangnya, suara TKI di Malaysia seringkali hanya dijadikan sapi perah oleh caleg di saat pemilu. Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Malaysia mengajak agar jangan memilih caleg yang tidak berpihak kepada TKI."Perhatian anggota DPR sekarang kepada TKI di Malaysia sangat kurang. Padahal waktu pemilu 2004, mereka banyak memberikan janji, tapi mana perhatian mereka terhadap persoalan-persoalan TKI kita selama ini. Karena itu TKI harus berhati-hati memilih. Jangan memilih mereka yang tidak peduli pada nasib TKI," ujar Ketua Umum PPI Malaysia Irfan Syauqi Beik dalam rilisnya, Kamis (22/1/2009).Irfan pun menyesalkan jumlah kunjungan kerja anggota DPR ke Malaysia di masa reses sangat jarang. Menurutnya, seharusnya kunjungan tersebut untuk menyerap aspirasi WNI di Malaysia, bukan sekedar melancong. Karena itu PPI Malaysia akan melakukan kontrak politik dengan sejumlah caleg yang bertarung melalui dapil DKI Jakarta II. Kontrak politik itu akan dilakukan bersamaan dengan Dialog dan Sosialisasi Caleg Dapil DKI II pada Selasa 27 Januari 2009 yang diadakan PPI Malaysia di Kuala Lumpur.Sejumlah politisi populer bakal bertarung di Dapil DKI II dalam pemilu mendatang. Mereka antara lain Sekjen PKNU Alwi Shihab, Ketua DPP PKS Shohibul Iman, politisi PAN Ade Daud Nasution, putera SBY Eddy Baskoro, politisi Hanura Samuel Koto, Ketua PKB Malaysia Machrodji Maghfur, putera politisi Golkar Theo L Sambuaga, Jerry Sambuaga, dan Ketua PD Malaysia Wawan Syakir Darmawan. Di Malaysia telah berdiri 8 perwakilan partai, yaitu PKB, PKS, Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Hanura, PAN, PDIP, dan PKNU. Kedelapan partai tersebut akan memperebutkan lebih kurang 800 ribu suara WNI di Malaysia.
Sumber detik.com
-